Wednesday, April 16, 2008

Nasi Aking

Ini cuplikan berita di KOMPAS, jd wondering kita hidup di negara agraris kan kata guru2 kita SD dulu tuh, nah ini kok malah pada kekurangan beras hiks..hiks (sedih mode on) padahal di jalanan Jakarta mobil2 mewah keluaran terbaru berseliweran.
But it's should start within us, me and you to do something about our beloved country, jadi kepikiran Program Penny Harvest-nya OPRAH neh, idenya ngumpulan uang kepingan terkecil (di US sono Penny kali) yg semua orang mo kaya mo miskin pasti bisa nyumbang trus dikelola untuk save the children, slogannya semacam One Penny save the world gitu lah. Kalo mo kita tiru bisa aja tuh idenya, kira-kira pecahan terkecil rupiah yg gak ngebebanin org brp ya seribu perak kali ya, jadi ntar kita bikin slogannya "1000 perak eh rupiah menyelamatkan banyak jiwa" atau kerennya " Rp 1000 can save one life"
Ada gak ya di MP yang punya jiwa pengggerak plus jujur plus punya kemapuan mengelola melakukan ide tsb. bayangkan kalo penduduk Indonesia ada +/- 200 jt jiwa, kalo 50 %nya aja yg nyumbang seribu perak kita dah dapat total Rp 100.000.000.000 (wow A big ammount isn't it? dan masing2 dr kita cm perlu keluarin duit 1000 perak), nah dari total ammount itu berapa %-nya dikelola, sisanya disumbangkan ke org yg perlu, bs berbunga kan, apalagi kalo metode pengumpulannnya 1 minggu sekali which mean setahun 52 kali, jd in total yg masuk 5.200.000.000.000 (gw gak tau neh cara bacanya lima ribu dua ratus milyard kali ya or 5.2 trilyun) for only 1000 perak a cost for each.
Ehm..just a thought...


SITUBONDO -  Akibat Paceklik. Buruknya cuaca di laut dalam dua bulan terakhir membuat sebagian warga nelayan di Dusun Kaliasin, Desa Tanjung Pecinan, Kab. Situbondo, terpaksa makan nasi beling. Nasi beling adalah sebutan warga setempat terhadap nasi karak atau nasi aking.

 

Mereka menyebutnya nasi beling karena untuk membeli karak itu, warga harus menjual atau menggadaikan barang pecah belah yang terbuat dari kaca atau beling. Di antaranya cangkir, teko dan baskom dari kaca.

 

Bagi warga di sekitar Pelabuhan Kalbut itu, barang-barang tersebut biasanya sudah dianggap sebagai aset berharga dan disimpan dengan baik di almari. Barang-barang itu kebanyakan dipakai jika ada hajatan atau hari raya keagamaan.

 

“Ya kalau tidak menjual atau menggadaikan barang-barang dari beling itu, mereka akan kesulitan meski cuma untuk membeli aking,” kata Camat Mangaran Drs Imam Darmaji, Selasa (15/4). Dusun Kaliasin, Desa Tanjung Pecinan berada di wilayah Kecamatan Mangaran, sekitar 15 kilometer arah utara kota Situbondo.

 

“Yang penting kenyang walaupun sering mengakibatkan sakit perut,” ujar Toyati, 30, salah seorang warga Dusun Kaliasin kepada Surya, Selasa, (15/4).

 

Dikatakan Toyati, untuk dimasak, aking atau karak itu harus direndam lebih dulu dengan air dingin selama kurang lebih satu jam. Dengan begitu, nasi karak akan terasa empuk dimakan walaupun rasanya hambar. Nasi aking ini berasal dari nasi basi yang dikeringkan.

Kepala Dusun Kaliasin, Muhammad Hasin menjelaskan, jumlah warganya sebanyak 300 kepala keluarga (KK), dan sebanyak 70 KK bekerja sebagai nelayan. Dari total 300 KK itu, sebanyak 120 KK tergolong sebagai keluarga miskin (gakin).

 

“Saya sendiri ya makan nasi aking kalau tak punya uang untuk membeli beras seperti saat ini. Beruntung saya masih punya pohon kelapa. Biasanya nasi aking itu saya campuri garam dan parutan kelapa supaya enak,” kata Hasin kepada Surya.

 

Saat ini, harga beras di Situbondo sekitar Rp 4.500 per kg sedangkan harga karak sebesar Rp 1.750-2.000 per kg. Rata-rata penghasilan warga Kaliasin sekitar Rp 300.000 per bulan. Namun saat paceklik seperti sekarang, mencari penghasilan Rp 10.000 per hari saja dirasakan sulit setengah mati oleh warga setempat.

 

Kepala Kantor Kesejahteraan Sosial Kab. Situbondo, Agus Fauzi mengatakan stok beras untuk bencana sebetulnya masih banyak yang tersisa. Namun, pihaknya tak bisa mengeluarkan tanpa ada perintah dari atasan. “Beras untuk bencana masih banyak, tapi kita hanya bisa mengeluarkan jika ada instruksi,” ujar Agus Fauzi. (SURYA/st6)  


2 comments:

Rose Siregar said...

Good Idea!
Tapi masalah...siapa yang mau kelola?
Itu sepertinya ada iklan diatas box ini "join us in enabling the poorest of the poor to improve their own lives"

Ita Widiastanti said...

Justru itu masalahnya siapa yg cukup punya kemampuan untuk melakukan itu, someone said start within us. Ehm tp ya gitu deh sama seperti kebanyakan org lain yg bs ngasih ide-ide bagus tp gak bs do it practically..that's me...what a pity.
Jd inget juga Iman tanpa perbuatan adalah sia sia waah...jd tambah sedih.
Padahal Rose, pas gw nonton Oprah dulu itu yg mulai gerakan Penny Harvest tuh anak sekolahan lho, seumuran SMP gitu kali, sampai akhirnya dia bisa bikin Foundation sendiri yang bs ngebiayain anak-anak di Afrika, she even hit 1.000.000.000 USD for just a penny for each. Bayangin deh cuma sekumpulan teenagers bs ngelakuin itu dan sampai sekarang mereka dah pada kuliah tp program itu tetep berjalan. Ehm.. still wondering. Sebenernya di Indonesia dah ada jg sih program-program donation, tp system pengumpulannnya kan mesti transfer ke rekening tertentu, which mean gak semua org bs ikutan (pertama dlm hal jumlah yg kalo transfer itu kan minimal 10.000 rupiah ya, pls dalam hal account yg bikin ribet), tp kalo ide Penny Harvest itu kan bener-bener ngumpulin recehan.