Thursday, January 31, 2008

Wafat Sang Presiden

Pas banyak org lg sibuk simak berita soal wafatnya Pak Harto, plus wacana untuk memeti es-kan kasus2 Pak Harto juga wacana untuk memaafkan dia (pak Harto maksudnya), seorang di milis cosmo justru mengirim artikel ini, dan gw tertarik untuk share (untuk yg gak ngebaca di milist), it worth to thought...

SOEKARNO, SEJARAH YANG TIDAK MEMIHAK

Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.

Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan. " Pak Karno seda " ( meninggal )

Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono - Panglima KKO - pernah berkata ,

" Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO "

Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.

Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah. The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah.

Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang.

Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan.

" Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya. Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso.

Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.

 Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! dan Ali Sadikin - Gubernur Jakarta - yang juga berasal dari KKO Marinir.

 Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.

Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.

Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah. Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.

Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor . Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota.

Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.

 Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa,

" Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. " ( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )

 

dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan. ( Kompas 11 Mei 2006 )

 

Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, " Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad " ( Kompas 13 Januari 2008 )

 

Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !

 Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.

Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.

Kesadaran adalah Matahari

Kesabaran adalah Bumi

Keberanian menjadi cakrawala

Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata

( * WS Rendra )


Office Boy

OFFICE BOY

Pataka sedang kesulitan keuangan, begitu kata teman-temannya. Kok tahu?
Karena setiap kali kekurangan uang, Pataka selalu sibuk meminjam uang sana sini.
Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia meminjam uang. Memang, setelah gajian pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian pinjam lagi.
Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau sudah demikian, maka Pataka sibuk mencari-cari siapa yang dapat meminjamkan uangnya.
Akhirnya Pataka mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman seorang office boy, namanya Sayuti.
Sebenarnya Pataka malu. Uangnya sudah habis padahal baru tanggal 16.
Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik taxi ke kantor dan untuk biaya makan.
Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba office boy menawarkan uangnya.
Dia tidak sampai hati melihat Pataka kesulitan. Pataka tadinya menolak karena malu.
Masak staf meminjam uang dari office boy? Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin
membantunya, sehingga akhirnya Pataka menerima bantuannya.
Dalam hati kecilnya Pataka merasa sangat malu. Malu sekali!.
Tapi Pataka terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang.
Keesokan harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya berbincang-bincang. Pataka penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa punya uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Pataka? Bukankah gaji Pataka lebih besar? Mereka sama-sama masih bujangan, belum menikah. Tapi, mengapa office boy tersebut bisa menyimpan uang sedangkan Pataka selalu kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya?

Siangnya Pataka baru mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dan bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat istimewa.
Dia paling rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua tugasnya. Tidak pernah terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat penampilannya sepertinya biasa saja.
Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, tapi tidak terkesan menjilat.
Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Pataka mulai menggali kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy tersebut.
"Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji saya selalu habis setelah tengah bulan." Pataka membuka percakapan.
Office boy tersebut mulai bercerita. "Saya dulu juga begitu, mas. Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya gaji saya semakin tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus mengembalikan uang yang saya pinjam di bulan sebelumnya. Jadi uang gaji saya berkurang. Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja tidak cukup, apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin berkurang lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak" Benar juga, pikir Pataka.
Pikiran yang sederhana tapi mengandung kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. "Jadi bagaimana caranya melepaskan diri dari lilitan utang?" tanya Pataka.
"Waktu itu saya diajari oleh nenek saya.
Saya pernah pulang kampung tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi wejangan oleh beliau." katanya.
Nenek saya berkata: "Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung, maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai bertambah banyak."
Hidup prihatin .
Waktu itu saya bertanya: "Bagaimana cara membendungnya?" Nenek saya menjawab tegas:"Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi." "Tapi nanti kurang nek." "Tidak", kata nenek. "Begini caranya. Begitu terima gaji, segera lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang. Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup."
Lalu saya diajak menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan lain-lain. Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin. Saya tidak boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki ke jalan raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan untuk hidup ngirit seperti itu. Tapi memang cukup sih." "Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan hidup seperti itu. Bulan depannya, uang gaji
saya sudah mulai ada yang bisa saya sisihkan untuk ditabung. Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi menjaga kondisi tubuh saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan hidup sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas. Sampai sekarang."
Pataka bertanya:"Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab." "Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam juta rupiah. Saya ingin menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas." Pataka hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Pataka cukup besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Pataka cenderung memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik taxi. Makan siang selalu di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan dari rumah. Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya. Rasa haru campur malu membuat Pataka bertekad mengubah cara hidupnya. Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera dibendung.
Mulai kapan? Hari ini! Change! Start today! Start now!

Monday, January 21, 2008

The Best is Yet to Come

Lagi ngadepin masalah yang sama, artikel ini gw upload untuk menginspirasi diri gw sendiri, well yeah the best is yet to come, so keep praying and gratefull for anything that we hold now.

The Best Is Yet To Come!

Seorang Wanita Yang Suaminya Pengangguran Membagikan Kisah Penantiannya…

Saya ingin berbagi satu cerita yang indah dengan Anda. Saya bertemu
Yane Pe Benito ketika saya memberi kotbah di perusahaannya. Yane
adalah seorang wanita yang menyenangkan yang memiliki kisah yang
mengagumkan untuk diceritakan, saya memutuskan untuk menceritakannya
pada dunia.

Dua tahun lalu, suami Yane, Beni, tanpa peringatan, kehilangan
pekerjaannya. Hal ini menyebabkan rasa sakit dua kali lipat karena
pekerjaannya sebenarnya sangat menjanjikan. Selama 6 tahun, Beni
sangat menikmati pekerjaannya di sebuah perusahaan distribusi
multinasional untuk produk perawatan kulit. Namun karena perubahan
struktur organisasi yang terjadi dalam perusahaan tersebut (yang
sering terjadi di banyak perusahaan belakangan ini), ia di-PHK.

Yane memutuskan untuk memberitahu berita menyedihkan itu pada kedua
anaknya yang masih kecil, Gabriel (6 tahun) dan Marga (4 tahun). Ia
memilih dengan hati-hati kata-kata yang akan dipakai untuk menjelaskan
hal tersebut. "Anak-anak, kita harus menjaga lebih baik barang-barang
kita…dan tidak memboroskan uang kita karena…ayah tidak punya pekerjaan
lagi."

Gabriel kecil berkata, "Maksud ibu, ayah dipecat?" Yane terkejut
mendengar kata-kata yang kasar tersebut. "Di mana kamu belajar
tentang kata itu?!" Puteranya menjawab tanpa berbelit-belit, "Dari
Peter Parker – Spiderman."

Tapi ya, PHK hanya merupakan kata yang lebih baik dari "Keluar, kami
tidak lagi membutuhkanmu di sini." Kehilangan pekerjaan adalah selalu
menyakitkan, sekalipun jika dibarengi dengan "pesangon". Di satu sisi
Yane bersyukur atas "rejeki nomplok" itu, tapi di sisi lain Yane
kuatir, menebak-nebak berapa lama keluarga mereka akan hidup dengan
bergantung pada pesangon itu.

Beberapa bulan pertama semua berjalan baik; Beni menerima rata-rata
dua panggilan interview setiap minggu. Namun beberapa bulan menjadi
setahun – dan terus berlanjut, panggilan interview semakin sedikit dan
jarang.

Selama hampir dua tahun suaminya menganggur, Yane melalui
kegelisahannya sendiri. Sebagai seorang ibu dari dua anak usia
sekolah, ia melihat tabungan mereka yang semakin menipis. (Sebagai
ukuran, ia pindah dari pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 8
tahun, ke pekerjaan yang lebih tinggi bayarannya.)

Tapi di samping dana yang semakin berkurang, ia juga kuatir akan harga
diri Beni. Bukan karena Beni tidak mencoba; namun kelihatannya memang
tidak banyak kesempatan kerja bagi pria berumur dengan latar belakang
dan pengalaman seperti yang dimiliki Beni. Sebenarnya ada dua
pekerjaan yang ia terima, tapi keduanya hanya bertahan sebentar.
Sebut saja sebuah konflik kepribadian atau ketidak-cocokan, tapi Beni
tidak dapat melihat dirinya bekerja lama di sana. Dengan marah, Beni
akan keluar lagi.

Dan pernikahan mereka pun mengalami kesulitan, karena sekarang Yanelah
yang memberi penghasilan bagi keluarga. "Akankah ego suami saya
bertahan selama ini?" ia terus dan terus bertanya pada dirinya
sendiri. Semakin waktu berlalu, ia semakin dan semakin kuatir akan Beni.

Yane mulai bertanya pada Tuhan, "Tuhan, saya tidak mengerti apa lagi
yang Engkau sedang ajarkan pada kami! Bagaimana lagi kami harus
berdoa? Apa lagi yang harus kami doakan?"
Itulah saat ketika Yane menyadari bahwa doa mereka harus lebih spesifik.

Maka ia mengumpulkan kedua anaknya dan berkata, "Mari berdoa bagi
ayah, agar ia dapat menemukan suatu pekerjaan yang baik dengan seorang
atasan yang baik – seseorang yang seperti atasannya di perusahaan yang
dulu."

Dan itu menjadi doa spesifik keluarga tersebut. "Tuhan, tolong ayah
untuk mendapatkan seorang atasan yang baik seperti atasannya dulu,
dalam nama Yesus."

Suatu hari, sekitar setahun lalu dari hari ini, Yane pulang dari kerja
dan melihat kedua anak dan suaminya sedang berdempetan sambil
membungkuk. "Ada apa ini?" tanyanya.
Ia mendengar anak-anaknya berbisik dengan gembiranya, "Tunjukkan pada
ibu sekarang!"

Beni menyodorkan sebuah amplop coklat padanya.
Yane pikir itu adalah sesuatu dari sekolah anak-anak.
Tapi bukan. Dengan perlahan ia menarik keluar secarik kertas dari
amplop itu, ia membaca nama perusahaan…kemudian jabatan suaminya…dan
gajinya… Sampai di sini, ia mengangguk puas.
Namun ketika ia sampai ke bagian bawah kertas tersebut, ia kaget
setengah mati. Karena ada sebuah tanda tangan. Tanda tangan milik
atasan favorit Beni!

Diiringi tatapan heran anak-anaknya, Yane mulai menangis dan tertawa
pada saat yang bersamaan. Ia sangat sulit untuk mempercayai ini!
Seperti seorang anak, ia melompat-lompat kesenangan, dan disambut
gembira oleh kedua anaknya yang ikut melompat dan tertawa bersamanya.
Gabriel bertanya pada ibunya, "Ibu, mengapa engkau menangis dan
tertawa pada saat yang bersamaan?"

Yane melihat kesempatan bagus untuk menjelaskan, "Ibu menangis karena
ibu begitu bahagia. Ingatkah bagaimana kamu berdoa untuk seorang
atasan yang baik bagi ayah? Lihatlah nama ini," ia menunjuk kertas
yang masih ia pegang. "Kita hanya meminta seorang atasan yang seperti
atasan ayah yang dulu. Tapi, Tuhan memberi ayah seorang atasan yang
persis sama! Ia menjawab doa-doa kita!"

Saat itulah Gabriel mulai menangis.
"Mengapa kamu menangis?" tanya Yane.
"Karena aku juga sangat bahagia," kata anak laki kecil itu, dan
seluruh keluarga saling berpelukan.
Ketika Yane menceritakan kisah ini, saya tahu saya harus berbagi
cerita ini dengan Anda.

Karena semua kita melalui banyak kesulitan dan kehilangan.
Kita kehilangan pekerjaan kita, kita kehilangan orang-orang yang kita
kasihi, kita kehilangan uang kita, kita kehilangan sahabat-sahabat
kita… Dan seringkali, kita menanti dan menanti agar rasa sakit ini
hilang, agar rasa kehilangan ini menjadi sembuh. Kadang-kadang, kita
menanti selama waktu yang panjang. (Yane dan Beni harus menunggu
selama dua tahun.)

Namun pada akhirnya, saya percaya kalau Tuhan telah menyiapkan berkat
terbaik bagi Anda.
Berimanlah. Percaya. Yang terbaik akan datang!

Sahabatmu,
Bo Sanchez

Sunday, January 13, 2008

Harga Kedelai naik..harga tempe + kebutuhan sehari-hari jadi ikut naik

Bingung mo ngasih judulnya, just wanna share...
Kemarin bibi di rumah gw cerita kalo mulai hari ini selama 3 hari berturut-turut (senin, selasa, rabo) semua tukang sayur yang trayeknya keliling komplek mo mogok massal alias gak jualan karena mo demo masalah kenaikan harga kedelai + terigu yang berbuntut kenaikan harga barang-barang yang lain (kayak sayuran dll, even it doesn't make sense anything to me, kedelai naik kok sayuran kayak bayam, kangkung and wortel jadi ikut naik). Nah karena tukang sayur pada mogok, bibi pengurus rumah gw jadi ikut panik deh, soalnya pasar jauh neh dari rumah, blm lagi doi kan mesti jagain Gaby, gak mungkin anak gw ikut dibawa-bawa ke pasar. Ada sih si mbak yang masih baru (masih training 2 bulan ^_*) bisa disuruh jagain, cuma rada ngeri juga kalo ntar si bibi ke pasarnya lama trus si Gaby keburu nagis jejeritan. Nah parahnya lagi suami gw jadi ikut panik, kemarin ribut suruh borong belanjaan di Tukang sayur terutama tempe ama tahu (yg ada hubungannya sama kedelai) takut gak kedapetan. Trus gw jadi mikir deh, selama ini kan gw gak terlalu care and notice soal si kedelai, eh gak sangka neh efek kenaikan harga kedelai itu bisa bikin heboh seluruh komplek gw. Dan yang bikin gw amaze lagi tuh semua tukang sayur kompak banget, salut deh. So gw jadi mikir ya, hal apapun yang terjadi di sekeliling kita yang sepertinya gak ada hubungannya (contoh kenaikan harga kedelai tadi) kita mesti ikut notice, ikut berempati dan ikut memperjuangkan juga kalo bisa. Jadi bukan masalah urusan gw atau bukan but it's about is it RIGHT or WRONG. Dan policy pemerintah untuk menaikan harga kedelai dari Rp 3.500 ke Rp 7.600 ya jelas salah. But dunno how to do anything bout it, So any suggestion how we can help???

Tuesday, January 8, 2008

Reason to like woman

You can feel her CARE in form of a SISTER...
You can feel her WARMTH in form of a FRIEND...
You can feel her PASSION in form of a BELOVED...
You can feel her DEDICATION in form of a WIFE...
You can feel her DIVINITY in form of a MOTHER..
You can feel her BLESSINGS in form of a GRANDMOTHER...
Yet She is so tough too
Her heart is so tender
So Naughty
So Charming
So Sharing
So melodious
She is a WOMAN
She is Life

Reason to like woman

You can feel her CARE in form of SISTER...
You can feel her WARMTH in form of FRIEND...

How to Find a soulmate

Before Looking for a Partner, Look Within Yourself


by Neil Clark Warren, Ph.D.
 

Mark and Gina came to see me on a chilly, rainy afternoon. The weather outside seemed to match the mood in my counseling office when this couple plopped down on the couch across from me. Their whole demeanor was frosty and frigid.

 

"What brings you in for therapy?" I asked them.

 

They looked at each other, and then Mark spoke. "To put it bluntly, we're miserable. We've been married four years, and every day has been a challenge. We're wondering if we should even keep trying."

 

I asked Gina if that was the way she saw it.

 

"I'm afraid so," she replied. "About two days after we returned from the honeymoon, we both had the sickening feeling that we had made a huge mistake. It's been downhill since then."

 

As our session unfolded, Mark and Gina told a story I've heard scores of times from marriage partners in peril. After a blissful courtship, they married and almost immediately discovered vast differences. They were opposites when it came to communication style, conflict resolution, personal habits, and a few dozen other qualities that come to light when you live with someone. Somehow all these differences were pushed aside and ignored amid their initial intoxicating feelings of infatuation.

 

So they ended up at my office, attempting to figure out how a relationship that held such promise could plummet to the depths of drudgery.

 

Gina said something that day I wish every single person could hear and grasp:

"I realize now that I had no idea who I was before I got married. I was thirty years old, and I just wanted to get married while I had the chance. Mark was a nice guy who had a good job and came from a solid family. I figured, What more could a girl want? Unfortunately, I had only the vaguest notion of my deep longings, my unique personality traits, my strengths and weaknesses. And since I didn't know who I was, I didn't have a clue about the kind of person I needed for a partner."

 

As this couple painfully discovered, you can't select the right person to marry until you know precisely who you are-unless you're lucky. But nobody should rely on luck when it comes to a decision that determines who will be your lifetime roommate, financial partner, joint parent of every child you have . . . and ten thousand other crucial matters.

You can make a great choice of a marriage partner-and the place to start is with a careful understanding of exactly who you are. The more you know about yourself, the clearer will be your sense of inner direction when it comes to finding the love of your life. With increased knowledge about your physical, emotional, intellectual, and spiritual qualities, your skillfulness as a mate selector will soar. People who find dating confusing and bewildering almost always lack familiarity with themselves.

 

Scratch Beneath the Surface

I'm often amazed and alarmed at the lack of knowledge singles have about themselves. Whether in therapy or discussions after speaking engagements, I frequently ask single men or women to tell me about themselves. Most do well at describing external aspects of their life: "Well, I work as a computer programmer, I love to ski and roller-blade, and I'm very active in my church group."

But when asked about their personality type, communication style, character strengths and weaknesses, or dreams for the future, they grope for responses: "I, uh, well . . . I guess I need to think about that some more."

So how do you go about understanding yourself better? There's no crash course on self-discovery, but let me offer four ways to get started:

  1. Write in a journal or notebook every day. You don't need to write for more than ten or fifteen minutes, but it's critical that you record your honest thoughts and feelings as they come to you. The goal is to practice tapping in to your internal reservoir.
  2. See a counselor. You don't need to be in crisis to visit a therapist. Schedule four or five sessions to explore your family background, personality makeup, and goals. You may wish to take a personality test (such as the MMPI or Myers-Briggs) and discuss the results with the counselor.
  3. Read something every day that stimulates your internal process. For example, I read a chapter of the Bible every morning. Other people prefer poetry or psychology books or novels that explore spiritual themes. This kind of reading has a way of leading you toward the center of yourself. If you read with a personal perspective--that is, with an eye for how the writing affects you and speaks to your daily needs--you will get more deeply in touch with your inner thoughts and feelings.
  4. Spend regular time with people who know themselves well and who encourage you to talk about what you feel most strongly. Get personal with these people. Try to understand them as best you can, and tell them as fully as possible about who you are.

The payoff for all this self-discovery and self-awareness is simple but profound: Men and women who know themselves well stand an excellent chance of selecting a mate well suited to them. Conversely, those people who are largely unaware of their inner workings make a decision as if they're spinning a roulette wheel-they cross their fingers and hope for the best.

When it comes to something as critical and all-encompassing as marriage, it's simply unwise to "hope" for the best when you can know for certain who would make the best partner for you.

 

Tuesday, January 1, 2008

My Wish for You on 2008


Wish you Prosperous and Happy New Year !!! 

Success is not the key to happiness.

Happiness is the key to success.

If you love what you are doing, you will be   happy and successful ...

Have a Successful Year ahead !!!  

2008

HAPPY AND HEALTHY NEW YEAR


"Everything in life is temporary.

Darkness of the night; or a bright day. Even sunrise is temporary; so is sunset.

So if things are going good, enjoy it because it won't last forever.

And if things are going bad, don't worry. Because it won't last forever either.

Everything passes by"

Have a great life ahead !!!